HIDUP BARENGAN


HIDUP BARENGAN

     
Surakarta – (14/7) Manusia memang diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai cerita dan kondisi, ada yang hidup di kota metropolitan dan ada juga di lingkungan pedesaan. Haruslah selalu kita terima bagimana kehidupan yang sudah ditakdirkan itu, asal saja kita mau mensyukuri atau tidak. Percayalah bahwa Allah SWT maha adil tentang segala sesuatu. Bahagia itu untuk diciptakan, bukan melainkan untuk kita cari. Maka dari itu sesulit dan sesempit apapun keadaan, kita tetaplah wajib untuk selalu bersyukur.
            Saya lahir di lingkungan pedesaan, tepatnya di desa Sadakan lor, Gumpang, Kartasura kabupaten Sukoharjo. Saya juga berada di dalam keluarga yang sederhana dimana terdapat keluarga inti di dalamnya, yakni Bapak, Ibu, Kakak dan saya sendiri. Bapak saya seorang Guru dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Dulu rumah keluarga kami cukup luas dengan adanya kebun di belakang dan halaman selebar lapangan bulutangkis di samping rumah. Namun sekarang semua hanyalah tinggal cerita karena lingkup rumah keluarga kecil kami semakin menciut karena kedatangan orang-orang baru yang mengubah keadaan suasana pedesaan kami menjadi layaknya suasana perkotaan yang dimana-mana kita hanya bisa melihat tembok, bukan hijaunya pepohonan yang rindang.
            Sebelum hidup dengan orang-orang baru itu, saya beserta keluarga sudah merasakan hidup barengan terlebih dahulu dengan orang-orang yang latar belakangnya berbeda-beda. Ya ibu saya mempunyai usaha indekos sendiri di belakang rumah. Orang-orang yang datang di indekos kepunyaan ibu saya mayoritas orang-orang yang sudah pasutri. Ada juga mahasiswa-mahasiswi dan murid yang sedang praktek kerja lapangan (PKL) menempati indekos ini tetapi hanya beberapa saja. Ibu saya menuturkan jika jarang menerima penghuni kos yang notabene masih pasangan lajang atau belum jelas statusnya. Hal ini dikarenakan menurut Ibu saya akan menjadikan pikiran bagi orang rumah atau tetangga sebelah apabila ada masalah-masalah kawula muda, seperti mesum, narkoba, miras dll. Tentu hal-hal ini sangatlah dihindari dan dicegah dengan sebaik mungkin.
            Tulisan saya sebelumnya sempat menyinggung tentang bagaimana saya pernah hidup barengan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda karena usaha indekos ibu saya. Dari seorang tentara, perawat, guru, karyawan, satpam, buruh ataupun seperti halnya mahasiswa-mahasiswi dan anak sekolah yang sedang melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) pernah saya rasakan ketika hidup barengan dengan mereka. Tentu dengan beragam cerita dan pengalaman sudah saya alami pula. Saya berusaha mendeskripsikannya di sini secara cermat. Dengan beragamnya cerita, mungkin saya akan mulai dengan cerita ribetnya urusan para kawula muda. Di indekos usaha ibu saya pernah ada pengalaman percintaan anatara dua kawula muda. Saking ribetnya urusan cinta itu, sampai-sampai harus mempertanggungkan nyawa sebagai taruhannya. Ya awalnya kedua belah pihak ini sedang berselisih dan saling menjauhi untuk beberapa minggu. Kebetulan ada juga teman-teman mereka juga mendiami indekos ibu saya. Singkat cerit,a ketika teman-teman dari dua pasangan yang sedang berselisih ini sedang nongkrong di depan teras, salah satu dari mereka iseng untuk membuka kos si pasangan yang sedang berselisih itu. Terkaget mungkin dengan apa yang ditemukan dihadapannya, teman yang masuk dalam kos tadi langsung berteriak. Dia menemukan pihak wanita dari pasangan muda tersebut ini tergeletak tidak sadarkan diri. Kemudian segera salah satu pihak temannya tadi melapor ke ibu saya dan langkah selanjutnya ibu dan anak-anak kos tadi langsung merujuk wanita yang tergeletak dalam kosnya tadi ke unit gawat darurat (UGD). Setelah beberapa menit dokter menangani, tiba saatnya dokter itu menuturkan sebab apa wanita tadi pingsan tak sadarkan diri. Ternyata hal ini disebabkan karena wanita itu menelan bulat-bulat 5 buah obat parasetamol secara langsung, tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan karena mengancam nyawa si penanggung perbuatan. Keadaan membaik ketika tutur dari sang dokter mengatakan bahwa si pasien masih bisa diselamatkan nyawanya dan selang beberapa jam ia siuman dan mulai terbangun dari pingsannya.
            Itulah beberapa pengalaman pribadi saya dengan keluarga kecil kami mengenai kehidupan yang barengan dengan orang-orang berlatar belakang berbeda-beda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAYANGANMU