REVIEW FILM SPOTLIGHT (2015)


REVIEW FILM SPOTLIGHT (2015)

Produser                                  : Tom McCarthy
Sutradara                                 : Tom McCarthy
Penulis Naskah                        : Tom McCarthy, Josh Singer
Rilis                                         : 6 November 2015
Genre                                      : Biography, Drama, True Story, History
PH / Perusahaan                      : Open Road Films

Pemain Film Spotlight            :
  1. Mark Ruffalo sebagai Michael Rezendes
  2. Michael Keaton sebagai Walter “Robby” Robinson
  3. Rachel McAdams sebagai Sacha Pfeiffer
  4. Brian d’Arcy James sebagai Matt Carroll
  5. Gene Amoroso sebagai Steve Kurkjian
  6. John Slattery sebagai Ben Bradlee Jr.
  7. Liev Schreiber sebagai Marty Baron.

Sinopsis Film Spotlight
Film Spotlight ini menjelaskan tentang sebuah tim dari Koran Harian The Boston Globe. Timnya terdiri dari Walter Robinson, sebagai editor, kemudian ada tiga reporter yakni Michael Rezendez, Sacha Pfeiffer, dan Matt Carroll, serta Ben Bradlee Jr. sebagai deputy editor. Koran Harian The Boston Globe memilih tim Spotlight ini sebagai tim andalan, tim ini dikhususkan menginvestigasi kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang.
Editor baru The Boston Globe yaitu Marty Baron dari The Boston Globe, ingin menjadikan korannya penting bagi pembaca maka memberikan tugas kepada Tim Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki yang sudah bertahun-tahun belum terungkap. Dimana pada kasus ini juga aparatur penegak hukum seperti Lembaga Peradilan, Jaksa Agung, dan Kepolisian tidak bisa berbuat banyak untuk kasus ini. Pada akhirnya kasus ini tidak menjadi permasalahan yang harus diungkap lagi.  Karena Gereja itu punya sistem yang kuat dan diselimuti lembaga paling sakral. Pada awalnya mendapat protes karena mengetahui sulitnya untuk mengalahkan dominasi gereja di masyarakat namun kebenaran harus tetap terungkap bagaimanapun rintangan yang akan menghadang nantinya.
Mulai itu Tim Spotlite mulai bekerja mencari dokumen-dokumen yang sudah tertimbun bertahun tahun.  Dan mulai mencari orang yang terlibat dari kasus tersebut mulai dari korban pelecehan seksual, pengacara, pengadilan, dan pastornya sendiri.  Pertama dimulai dari pengacara Mitchael Garabedian yang dulu menjadi pengacara atau advokat bagi para korban pelecehan seksual yang dalam pengungkapan kebenarannya sering di ancam oleh gereja.  Mike dengan ini menyebutkan bahwa The Boston Globe salah satu media massa lokal yang paling kuat pada waktu itu sehingga masyarakat akan percaya terhadap nanti apapun hasilnya.
Selanjutnya, keempat orang Tim Spotlite mulai wawancara terhadap para korban.  Pertama mengundang Phil Saviano (korban), ke tempat The Boston Globe. Phil menuturkan terdapat 13 pastor yang terlibat dalam pelecehan seksual di Boston.  Penuturannya Phil selaku korban, ketika kecil dia disuruh oral seks oleh pastor karena pada waktu itu phil menganggap bahwa pastor adalah sesuatu yang agung yang akan menjadi penyelamat bagi dirinya. Tetapi pastor telah melakukan pelecehan seksual secara fisik dan spritual. Karena para pastur telah merampok keimanannya demi kepuasan nafsu semata.
Korban yang kedua yaitu Joe yang di wawancarai oleh Sacha, dia seorang gay dia menuturkan bahwa ketika kecil diajak pastor dan terpaksa melakukan apa yang diinginkan pastor yaitu berhubungan intim pada waktu kecil. Selanjutnya, korban yang ketiga yaitu Patrick dengan bantuan Garabedian, akhirnya diwawancarai salah satu korban dari pastor Geoghan dalam pelecehan seksual terhadap anak anak. Pada waktu itu Patrick baru umur 12 tahun. Dan terdapat tambahan informasi yang diterima Mike dari yang bernama Richard yaitu peneliti pencabulan yang dilakukan pastor-pastor pada waktu itu. Dia menjelaskan bahwa itu adalah sebuah fenomena psikiatri sehingga harus benar-benar terungkap ketidakadilan ini.  Dari hasil wawancara dengan korban yang menjadi target para pastor yaitu keluarga miskin, tidak mempunyai ayah, dan memliki watak pemalu supaya apa yang dilakukannya tidak disebarluaskan ke khalayak umum. Tim Spotlite juga kaget dengan penuturan dari Richard yang menyebutkan terdaapat 90 pastor yang terlibat dalam jaringan kasus ini. Setelah dicari data validnya akhirnya menemukan bahwa terdapat 87 pastor yang terindikasi melakukan kejahatan tersebut.
Berita besar ini tidak terungkap karena baik pengacara, gereja, pastor, uskup, dan keluarga korban sering diselesaikan dengan jalur kekeluargaan yaitu lebih tepatnya ganti rugi. Dan gereja juga mempunyai peranan dalam membisukan jaksa, polisi atau lembaga peradilan. Sehingga The Boston Globe fokus bukan ke kasus pastornya tetapi ke sistemnya yang begitu menggurita dan sulit untuk diungkap. Dari sini juga mulai terlihat daftar pelecehan seksual dan tim spotlite mulai mewawacarai korban pastor yang sangat banyak. Hal ini membuat kasus pelecehan seksual oleh pastor semakin terang.
Tim Spotlite mencari-cari dokumen rahasia yaitu keterlibatan pastor dan uskup pada kasus itu sejak bertahun-tahun. Namun ketika mencari dokumen rahasia tersebut banyak rintangan sehingga teramat sulit untik mendapatkannya. Dengan bantuan Garabedian akhirnya Mike mampu menemukan dan mengetahui isi dokumen rahasia tersebut. Isinya menyatakan bahwa Uskup yaitu Cardinal Law ternyata sudah tahu akan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastor tetapi hanya diam saja melihat kejadian tersebut. Sudah jelaslah kasus tersebut, ketika detik-detik mau diterbitkan berita kasus ini. Robby menyatakan bahwa kita harus mencari data yang lengkap lagi dan harus ada konfirmasi dari pastornya sehingga berita ini akan penting bagi masyarakat dibalik kesucian pastor yang terlindungi oleh agama. Dan supaya ke 87 pastor tersebut mengakui kejahatan pelecehan seksual yang dilakukannya.

Relation: https://agustinwulandariblog.wordpress.com/2017/09/12/review-film-spotlight/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAYANGANMU